Habib Luthfy Kembali Pimpin Jam’iyyah Thariqah Periode 2012-2016

Malang, NU Online
Habib Muhammad Luthfy bin Ali bin Hasyim bin Yahya ditetapkan kembali menjadi Rais Aam Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (Jatman) periode 2012 – 2016. Sementara Mudir Aam dipercayakan kepada KH Abdul Mu’thi Nurhadi yang sebelumnya menjabat sebagai Mudir Idaroh Wustho Jatman Propinsi Jawa Timur.

Keputusan penetapan pasangan Habib Luthfy dan KH Mu’thi dilakukan melalui sidang Komisi Majelis Ifta’ yang berlangsung Jum’at (13/1) tadi malam, yang dipimpin langsung oleh Habib Luthfy bersama anggota majelis ifta’ yang diwakili dari unsur Idaroh Aliyah dan Rais Idaroh Wustho yang diambil dari unsur perwakilan Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Sedangkan Posisi Katib Aam, Sekretaris Jendral dan Bendahara Umum masih dijabat pengurus lama yakni KH. Zaini Mawardi, KH. Mohammad Masroni dan Ir. Bambang Iriyanto.
Read the full post »

Presiden Membuka dalam Muktamar XI Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mutabarah An-Nahdliyyah

Malang, 11/01. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara resmi membuka Muktamar XI Jam’iyyah Ahlilth Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah di Pondok Pesantren Al Munawwariyah, Bululawang, Malang, Rabu (11/1) siang. Pembukaan ditandai dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim dan pemukulan bedug oleh presiden yang didampingi Menteri Agama, Gubernur Jawa Timur, ketua Umum PBNU, Rois Am Jam’iyyah Thariqah dan Pengasuh Pesantren Al-Munawwariyah.

Presiden menyampaikan, dakwah yang teguh, jernih, substantif, mendidik, dan tanpa kekerasan yang dilakukan oleh kaum thariqat adalah yang paling tepat dalam rangka menciptakan Indonesia yang maju, adil dan makmur. “Tradisi thariqah sangat tepat untuk mengatasi konflik dan bentrok yang seringkali terjadi,” kata presiden menambahkan. Presiden mengaku terkesan dengan kejernihan berfikir dan kesediaan berpartisipasi yang dilakukan oleh kalangan thariqah.
Read the full post »

Gus Dur mampir

Gus Dur adalah tokoh karismatik, kami memampang gambar beliau bukan sekedar simpatik, tetapi ada kenangan ter sendiri. Beliau ihlas menyempatkan diri mampir ke Pondok Pesantren Nahrul ‘Ulum Purbosuman Ponorogo Jawa-Timur dalam rangka pengajian Akbar.

Sebelum beliau hadir Romo Yai Pengasuh Pondok mempersiapkan sarana dan prasarana sehingga patut untuk menyambut sang Gus Dur, tak terkecuali membuat tulisan Wellcome yang kami pampang di web, mungkin anda juga telah melihatnya.

Al-kisah Gus Dur Wafat 31 Desember 2009, tanpa disangka dan tak kami duga akhir riwayat wellcame yang telah dibangun dengan susah payah dengan biaya yang tak sedikit, pada tanggal itu pula dirobohkan guna menyelesaikan pembangunan Masjid Raya Istawa.

Mohon Do’a Restu Semoga Pembangunan masjid segera tercapai

Manaqib Kubro Se~Jawa Timur

 Manaqib KubroKegiatan amalan Manaqib adalah sudah menjadi dari bagian budaya bangsa Indonesia khususnya kaum Nahdiyyin, yang saat ini sudah menjamur hampir diseluruh wilayah Negara Indonesia tercinta. Di Jawa Timur tiap 3 bulan – anjang sana perkabupaten / kota madya.

Adapun maksud dari Manaqib adalah pembacaan riwayat hidup, para Salafus Sholihin (kyai-ulama’ terdahulu), perintis thoriqoh yang bernaung di bawah Nahdlotul ‘Ulama, seperti Qodiriyah, Naqsyabandiyah, Sadziliyah dan lainnya dengan harapan setelah mengetahui riwayat tersebut kita sebagai kaum muslimin bisa meniru amal-amal sholih mereka, sehingga kita bisa meningkatkan iman dan taqwa kita pada Alloh Azza Wajalla, dan mencapai derajat yang luhur disisi Alloh SWT.

Manaqib adalah majmaul-khoir atau tempat berkumpulnya segala kebaikan, diantaranya silaturahmi, para ikhwan bisa bersilaturohmi dengan ikhwan lain yang berlainan daerah dengan demikian maka ikatan persaudaraan umat islam akan lebih kuat.

Haul (memperingati wafat) para pahlawan agama seperti: Syeh Ahmad Suyuti dan Kyai Ageng Nur Hasan yang anak turun mereka adalah pendiri PP. Nahrul ‘Ulum Ponorogo. Kyai Ageng Besari, yang keturunannya menjadi kyai-kyai mashur seperti pendiri Pondok Tebuireng, Gontor, Termas, Lirboyo, Ploso Kediri dan lain-lainnya termasuk Presiden KH. Abdul Rahman Wahid (Gusdur), Mega Wati dan Susilo Bambang Yudoyono. Kyai Ageng Purbokusumo adalah cikal bakal kelurahan purbosuman, beliau adalah Prajurit Diponegoro. Raden Bethoro Katong adalah Pendiri Kabupaten Ponorogo. Beliau-beliau perlu kita do’akan semoga mendapat ampunan kesalahannya diterima amal sholihnya dan mendapat ridlo Alloh SWT.

Peringatan Isro’ Miroj Nabi Muhammad saw kita kenang kembali, semoga Alloh memberikan iman dan taqwa dan keseriusan dalam menunaikan kewajiban pada Alloh SWT.

 Atas dasar pemikiran di atas maka kami bermaksud mengadakan kegiatan Manaqib Kubro, Haul dan Peringatan Isro’ Miroj Nabi Muhammad saw dengan harapan akan tercipta sebuah generasi yang selalu mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw dan senantiasa berusaha untuk menjadi pribadi muslim yang sesuai dengan harapan beliau. Dan akhirnya semoga kita semua dijadikan sebagai umat yang mendapat syafa’at dari beliau kelak di hari yang tidak aka nada syafa’at selain dari beliau.

Maulana Zanjari Attarimi

SEKILAS MANAKIB MAULANA ZANJAR ATTARIMI

BIN SAYID ISHAQ BIN SAYID MAHMUD NUR

YAMAN – SAUDI ARABIA

Lahir di Tarim Yaman 7 Shofar 856 H

Wafat di Dresi Kaliori – Rembang – Indonesia

12 Sya’ban 908 H

Oleh

KH. NUR HAMIM ‘ADLAN

Pada Abad 8 Hijriyah, di Yaman ada sebuah Pondok Pesantren, yang mana harus memenuhi syarat tertentu bila mondok di pesantren tersebut, yakni harus mimpi bertemu Rasululloh SAW.

Adalah tidak sembarang orang bisa mimpi bertemu Rasululloh Muhammad SAW seseorang yang bisa mimpi bertemu Rasululloh memang takdir Alloh dan dikehendaki Alloh.

Alhamdulillah Muhmud Nur termasuk santri yang diterima langsung oleh Kyainya, karena walaupun Mahmud Nur belum bercerita Sang Kyai sudah memahaminya.

Read the full post »

Sayyid Asyrofi Hadlromaut Al -Yamaniy

Sayyid Asyrofi Hadlromaut

Al -Yamaniy

 

Di desa Sering Kecamatan Sumber Kabupaten Rembang Jawa Tengah, disana ada tanah lapang milik desa (bebas pajak) yang letaknya sekitar 200 M arah utara dari Masjid Sering dan sekitar 100 M jalan umum Sekar Arum-Landoh (arah selatan). Ketika tempat tersebut masih hutan belantara ada sosok “Ulama’ Besar” dari Hadlromaut Negara Yaman berpetualangan dari negaranya ke berbagai daerah dengan berpindah-pindah tempat menuruti kata hati yang mana Beliau pernah munajat pada Alloh SWT minta petunjuk tentang tempat mana untuk beribadah dan beramal sholih dalam menekuni SISA HIDUPNYA. Terkabullah “Permohonan Beliau” yang menyatakan “BAU HARUM” yang maksudnya agar supaya mencari tanah / tempat tinggal yang bau harumnya persis yang dicium dan dirasakan pada waktu munajat  pertama kali di negara kelahiranya.

Tapi sayang  dalam petualangannya  melanglang buana dari satu tempat  ke tempat lain tiada satupun bidang tanah yang berbau harum sama dengan bau harum yang didapat ketika bermunajat di Negaranya. Beliaulah sosok manusia yang gagah perkasa, tidak gentar dan tidak pantang menyerah. Dalam keyakinannya Alloh SWT memberi petunjuk pastilah Alloh SWT akan memberikan bukti, biar lautan tetap disebrangi, hutan rimba dengan berbagai halangan dan rintangan sama sekali tidak menggoyahkan imannya dan tekatnya. Dan akhirnya beliau Sayyid Asyrofi RA singgah di daratan Sumatra  tepatnya di sekitar daerah Minangkabau dan disana  beliau sempat menyebarkan ajaran agama bahkan sudah punya kader-kader ustadz ustadzah dan sudah mampu membantu mengajar para santri. Bahkan mampu pula memegang dan mengelola perjuangan yang beliau rintis. Debar jantung Sayyid Asyrofi RA tak dapat ditahan karena rencana beliau di sini hanyalah singgah sementara, dengan sangat terpaksa dan harus dipaksakan beliau yang mulia dan dimulyakan Allah SWT, Baginda Sayyid Asyrofi RA berpamitan dengan para santriwan dan santri putri yang jumlahnya telah ratusan .

Dengung suara tangis dari para santri tak henti, bahkan masyarakat yang sudah berumah tangga ikut pula membanjiri air mata dengan isak tangisnya, mereka akan ditinggalkan pahlawannya yang setiap saat dimintai pertolongan, petunjuk, yang setiap saat memberikan siraman kedamaian, ketentraman dan berkahnya telah dirasakan semua lapisan masyarakat. Melihat rasa berat warga masyarakat ditinggalkan beliau, Sayyid Asyrofi RA menangis pula tersengkal-sengkal dengan penuh haru, ternyata beliau banyak berbuat manfaat di daerah tersebut yang sebelumnya tidak pernah terlintas di benak beliau dan bagi beliau sudah hal yang biasa bahwa di mana tempat beliau berada beliau niati Li i’lai Kalimatillah.

Tapi setelah beliau menjelaskan tetang petulangannya. Akhirnya masyarakat bisa memaklumi dan mengikhlaskan meneruskan perjalananya dengan diikuti dua santri sebagai pendampingnya yang berasal juga dari daerah yang barusan ditinggalkan. Hari demi hari siang berganti malam dan seterusnya sampai berbulan bulan beliau mengikuti bau harum yang asli pusarannya adalah nanti yang akan didiami sampai akhir hayatnya.

Bersujud sukurlah Sayyid Asyrofi RA dan kedua santrinya setelah menemukan pusat pusaran bau harumnya dan ternyata persis yang didapatkan waktu munajat di Negaranya. Kemudian di daerah sini beliau memperbanyak khulwat sementara kedua santrinya membuatkan surau (sumur) tempat wudlu dan rumah ala kadarnya juga kedua santri tersebut yang berkomunikasi dengan masyarakat meladeni para tamu yang bermacam kebutuhan mereka. Ada yang pengin mengaji, ada yang menghaturkan kesulitan dsb. Sekitar tujuh tahun beliau mendapat kenikmatan dan membuktikan terkabulnya hidayah Alloh SWT. Beliau di panggil ke Hadirot Alloh SWT pada Tanggal 29 Rojab 783 H /1362 M Hari Jum’at. Dan sangat disayangkan Beliau R.A. Dzuriyyah Rosululloh SAW belum berkeluarga alias bujangan. Beliau meniggal sebelum umur 50 th. Perawakan beliau tinggi kekar berjubah putih berikat kepala seperti P. Diponegoro, tidak berkumis dan berjenggot. Beliau Hafidz Al-Qur’an. Oleh masyarakat jenazahNya dimakamkan di tempat tinggalnya seperti sekarang ini, dan kemudian perjuanganya diteruskan kedua santrinya sebagai sesepuh ummat, tapi sayang pula kedua santri tersebut sampai akhir hayatnya juga itba’ dalam keadaan membujang.

Jadi makam tersebut aslinya tiga Sayyid Asyrofi RA dan kedua santrinya. Adapun kuburan lainnya yang menyusul Wallahu A’lam. Maka jangan heran ketika KH. Nur Hamim ‘Adlan menemukan makam tersebut yang diajak sekitar sepuluh orang dari penduduk sekitar semuanya mencium bau harum yang belum pernah didapatkan semacam itu sebelumnya dan sampai kiamat. Itulah bau harum alami yang sudah harum sebelum Sayyid Asyrofi RA datang. Dan terlihat dari mata hati ada tiga burung walet satu kemudian menyusul dua. Dan bau harum tersebut bisa tercium bagi orang-orang yang dikehendaki oleh Alloh SWT. Asalkan berziarah ke makam Sayyid Asyrofi karena Alloh SWT Insya Alloh bisa menjumpai bau harum tersebut.

Rinkas cerita setelah beliau wafat tidak ada satupun yang dapat mewarisi perjuangannya, akhirnya vakum sampai bertahun tahun. Akhirnya sekitar 150 M arah timur laut dari masjid sekarang ada seorang prajurit Demak yang tidak begitu alim agamanya, babat daerah tersebut dan bersanak keluarga turun temurun sampai sekarang.

Pesan Kh. Nur Hamim ‘Adlan Ponorogo;

Kalau desa Sering Kec. Sumber, Rembang, ingin istiqomah dan barokah kehidupannya seringlah berziarah ke makam Waliyulloh tersebut. Jadi kata “ SERING” digunakan nama desa disini, Insya Alloh agar warganya sering berziarah kemakam Sayyid Asyrofi RA dan kedua santrinya.

Menurut legenda atau cerita turun-temurun madegnya desa SERING malamnya berdirinya masjid Demak dan siangnya desa sering, Insya Alloh ada benarnya. Karena yang babat adalah seorang muslim, masih prajurit Demak.

Maka ketika KH. Nur Hamim ‘Adlan  Ponorogo datang didesa Sering pertama kali sekitar pukul 11 Malam dihadang seorang pendekar, itulah prajurit Demak Bintoro.

Menurut isyaroh KH. Nur Hamim ‘Adlan, Pengasuh Ponpes Nahrul ‘Ulum Purbosuman Ponorogo Jawa Timur , Insya Alloh beliau Sayyid  Asyrofi RA meninggal:

Hari        : Jum’ah  Tanggal :29 Rojab 783 H / 1362 M

Asal        : Hadlromaut –Yaman.

Pesan  Kyai Hamim Ponorogo :

  1. Tiap malam Jum’at Kliwon ibadah lapanan bersama.
  2. Tiap hari Jum’at kliwon atau tanggal 29 Rojab diadakan haul.
  3. Anda percaya saya, kerjakan ! anda tidak percaya tetaplah berziarah kemakam tersebut karena Allah.

Oleh :

KH. NUR HAMIM ‘ADLAN

Pondok Pesantren NAHRUL’ULUM

Purbosuman Ponorogo

SYEH MUNDZIR MANAN

Oleh : KH. NUR HAMIM ‘ADLAN

السلام عليكم ورحمة الله وبر كاته حَمْدًا لِمَنْ قَالَ فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : اَلاَّ اِنَّ اَوْلِيَاءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُوْنَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُ

Pada tanggal 28 Maret 2004 M./7 Shofar 1425 H. Hari Sabtu Pon Pukul 16.00 (4 sore) bersama Rombongan sekitar 15 orang yang dipimpin Kyai Tasrif-Waru-Rembang datang di Rumah Kyai Hamim Ponorogo.

Beliau serombongan meminta agar supaya Wali-Wali daerah Waru-Rembang bisa ada titik kejelasan baik Nama atau Sejarahnya.

Sebenarnya Saya Pribadi sangat berat, tidak tahu harus bagaimana, dan hanya Allohlah Sang Ahli Pemberi Petunjuk.

 Pada abad kedelapan Hijriyah di Persi ada seorang Ulama’ Besar Ahli Thoriqoh di Jamannya, bernama Syeh Mundzir Manan. Beliau bersama istri dikaruniai 2 (dua) Putra, yang Pertama dalam usia Balita dan yang ke-Dua masih usia beberapa bulan.

Melihat situasi yang tidak menentu dinegaranya, maka beliau ingin berlayar ke Indonesia dengan dibantu teman-teman beliau yang sudah sering pulang-pergi berdagang ke Indonesia. Oleh karena tujuannya ke Indonesia dan sampai ke Jawa Tengah tidak mengalami kesulitan. Disamping tujuan berdagang seperti Ulama’ yang lain adalah berdakwah.

Karena masih ada hasrat untuk pulang ke Tanah Air Syeh Mundzir Manan tidak mengajak Istri dan kedua Putranya.

Setelah sampai di Pulau Jawa sebelah timur (sekitar daerah Gresik) Syeh Mundzir Manan berlabuh dengan prahu layarnya.

Hari demi hari bahkan berganti bulan dan tahun, Syeh Mundzir Manan menetap didaerah Rembang tepatnya sekitar 12 km arah Timur dari Pemakaman beliau. Dan tidak disangka ternyata minat Masyarakat untuk mengharapkan Pengajian Beliau sangat menyibukkan, hingga tidak terasa sampai bertahun-tahun, bahkan dari kalangan Ulama’ yang ingin diperkenalkan dan dibimbing Hal Ihwal Thoriqoh. Oleh karena itu meliau memutuskan nikah lagi dengan Wanita Muslimah asli Rembang dan dikaruniai 3 Putra, putra Pertama Pria, putra kedua dan ketiga Wanita.

Dengan tidak terasa ternyata telah 10 (sepuluh) tahun berjalan.

Atas ijin istri dan keluarga mertua Syeh Mundzir Manan kembali ke Negara Persia dan sampai disana

Istri Pertama dan ke-Dua Putranya di boyong  ke Rembang. Sesampainya di Rembang (nama daerah sekarang), karena kata Waru lebih dulu disebut kebanyakan orang. Beliau membuatkan Rumah yang berdekatan antara Istri Pertama dari Persia dan Istri keDua dari Jawa sekitar 300 m jaraknya (Insya Alloh diWaru-Rembang).

Sebelum beliau meninggal dunia, beliau berwasiat agar didekat kuburnya ditanami “Pohon Bunga Cari” ada yang menyebut “Pohon Bunga Kantil” ada pula dengan sebutan “Pohon Bunga Gading” karena bentuk dan warnanya sebelum mekar seperti  gading Gajah.

Orang dahulu mengatakan itu bunga “Bunga Cari” Insya Alloh mengandung pelajaran “Agar setiap saat manusia mencari Tuhannya yaitu Alloh SWT”.

Dikatakan “Bunga Kantil” agar senantiasa manusia erat tidak terpisah (kantil-kantil) kepada Alloh SWT, dengan duduk-berdiri dan setiap saat.

Kepribadian Syeh Mundzir Manan.

Beliau perawakan hitam manis, lincah bicara dan berjalannya. Bahkan menjelang wafatnya Beliau berjalan tetap tegar dan tetap seperti mudanya. Tajam bicaranya dan sekali bicara benar-benar di ingat oleh Pendengarnya dan banyak berpengaruh pada suasana Masyarakat. Syeh Mundzir Manan bicara begini, masyarakat akan mengalami suasana begini, dan sebagainya, sehingga gerak-geriknya menjadi pengamatan dan kewaspadaan Masyarakat. Karena beliau sangat benar-benar serius dan konsekwen pada Ahlaq Rosululloh SAW.

Sehingga sangat jernih hatinya, Pasih bicaranya, tajam berkilau sorot matanya. Sangat jarang bicara dan senyumnya.

Kesimpulan KH. Nur Hamim

Itulah sebabnya di Waru banyak makam Wali terpendam dan sebenarnya “Inilah Punjernya”.

SYEH MUNDZIR MANAN

Lahir Tahun 632 H.

Di Persia

Wafat 27 Robiul Awal 733 H

Di Waru-Rembang

Jawa Tengah.

Permohonan maaf:

Kepada semua fihak, tentang berbagai kesalahan menanggapi Syeh Mundzir Manan, Saya mohon ampun pada Alloh dan mohon dimintakan ampun pada-Nya, dan inilah Isticharoh Saya dan pada dasarnya Saya bisa mengemukakan hal ini adalah kehendak Alloh SWT.

Harapan

Semoga seklumit Manakib Syeh Mundzir Manan ini sangat bermanfaat, karena sangat sempit pula untuk menjelaskan secara luas, dan memang inilah adanya.

Sayyid Asyrofi Hadlromaut Al -Yamaniy

Oleh : KH. NUR HAMIM ‘ADLAN

اَلْحَمْدُ للهِ وَالشُّكْرُ للهِ عَلَى نِعَمِ اللهِ لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَ بِاللهِ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ وَّالاَهُ

Di desa Sering Kecamatan Sumber Kabupaten Rembang Jawa Tengah, disana ada tanah lapang milik desa (bebas pajak) yang letaknya sekitar 200 M arah utara dari Masjid Sering dan sekitar 100 M jalan umum Sekar Arum -  Landoh (arah selatan). Ketika tempat tersebut masih hutan belantara ada sosok “Ulama’ Besar” dari Hadlromaut Negara Yaman berpetualangan dari negaranya ke berbagai daerah dengan berpindah-pindah tempat menuruti kata hati yang mana Beliau pernah munajat pada Alloh SWT minta petunjuk tentang tempat mana untuk beribadah dan beramal sholih dalam menekuni SISA HIDUPNYA. Terkabullah “Permohonan Beliau” yang menyatakan “BAU HARUM” yang maksudnya agar supaya mencari tanah / tempat tinggal yang bau harumnya persis yang dicium dan dirasakan pada waktu munajat  pertama kali di negara kelahiranya.

Tapi sayang  dalam petualangannya  melanglang buana dari satu tempat  ke tempat lain tiada satupun bidang tanah yang berbau harum sama dengan bau harum yang didapat ketika bermunajat di Negaranya. Beliaulah sosok manusia yang gagah perkasa, tidak gentar dan tidak pantang menyerah. Dalam keyakinannya Alloh SWT memberi petunjuk pastilah Alloh SWT akan memberikan bukti, biar lautan tetap disebrangi, hutan rimba dengan berbagai halangan dan rintangan sama sekali tidak menggoyahkan imannya dan tekatnya. Dan akhirnya beliau Sayyid Asyrofi RA singgah di daratan Sumatra  tepatnya di sekitar daerah Minangkabau dan disana  beliau sempat menyebarkan ajaran agama bahkan sudah punya kader-kader ustadz ustadzah dan sudah mampu membantu mengajar para santri. Bahkan mampu pula memegang dan mengelola perjuangan yang beliau rintis. Debar jantung Sayyid Asyrofi RA tak dapat ditahan karena rencana beliau di sini hanyalah singgah sementara, dengan sangat terpaksa dan harus dipaksakan beliau yang mulia dan dimulyakan Allah SWT, Baginda Sayyid Asyrofi RA berpamitan dengan para santriwan dan santri putri yang jumlahnya telah ratusan .

Dengung suara tangis dari para santri tak henti, bahkan masyarakat yang sudah berumah tangga ikut pula membanjiri air mata dengan isak tangisnya, mereka akan ditinggalkan pahlawannya yang setiap saat dimintai pertolongan, petunjuk, yang setiap saat memberikan siraman kedamaian, ketentraman dan berkahnya telah dirasakan semua lapisan masyarakat. Melihat rasa berat warga masyarakat ditinggalkan beliau, Sayyid Asyrofi RA menangis pula tersengkal-sengkal dengan penuh haru, ternyata beliau banyak berbuat manfaat di daerah tersebut yang sebelumnya tidak pernah terlintas di benak beliau dan bagi beliau sudah hal yang biasa bahwa di mana tempat beliau berada beliau niati Li i’lai Kalimatillah.

Tapi setelah beliau menjelaskan tetang petulangannya. Akhirnya masyarakat bisa memaklumi dan mengikhlaskan meneruskan perjalananya dengan diikuti dua santri sebagai pendampingnya yang berasal juga dari daerah yang barusan ditinggalkan. Hari demi hari siang berganti malam dan seterusnya sampai berbulan bulan beliau mengikuti bau harum yang asli pusarannya adalah nanti yang akan didiami sampai akhir hayatnya.

Bersujud sukurlah Sayyid Asyrofi RA dan kedua santrinya setelah menemukan pusat pusaran bau harumnya dan ternyata persis yang didapatkan waktu munajat di Negaranya. Kemudian di daerah sini beliau memperbanyak khulwat sementara kedua santrinya membuatkan surau (sumur) tempat wudlu dan rumah ala kadarnya juga kedua santri tersebut yang berkomunikasi dengan masyarakat meladeni para tamu yang bermacam kebutuhan mereka. Ada yang pengin mengaji, ada yang menghaturkan kesulitan dsb. Sekitar tujuh tahun beliau mendapat kenikmatan dan membuktikan terkabulnya hidayah Alloh SWT. Beliau di panggil ke Hadirot Alloh SWT pada Tanggal 29 Rojab 783 H /1362 M Hari Jum’at. Dan sangat disayangkan Beliau R.A. Dzuriyyah Rosululloh SAW belum berkeluarga alias bujangan. Beliau meniggal sebelum umur 50 th. Perawakan beliau tinggi kekar berjubah putih berikat kepala seperti P. Diponegoro, tidak berkumis dan berjenggot. Beliau Hafidz Al-Qur’an. Oleh masyarakat jenazahNya dimakamkan di tempat tinggalnya (Desa Sering Kec. Sumber, Rembang), dan kemudian perjuanganya diteruskan kedua santrinya sebagai sesepuh ummat, tapi sayang pula kedua santri tersebut sampai akhir hayatnya juga itba’ dalam keadaan membujang.

Jadi makam tersebut aslinya tiga Sayyid Asyrofi RA dan kedua santrinya. Adapun kuburan lainnya yang menyusul Wallahu A’lam. Maka jangan heran ketika KH. Nur Hamim ‘Adlan menemukan makam tersebut yang diajak sekitar sepuluh orang dari penduduk sekitar semuanya mencium bau harum yang belum pernah didapatkan semacam itu sebelumnya dan sampai kiamat. Itulah bau harum alami yang sudah harum sebelum Sayyid Asyrofi RA datang. Dan terlihat dari mata hati ada tiga burung walet satu kemudian menyusul dua. Dan bau harum tersebut bisa tercium bagi orang-orang yang dikehendaki oleh Alloh SWT. Asalkan berziarah ke makam Sayyid Asyrofi karena Alloh SWT Insya Alloh bisa menjumpai bau harum tersebut.

Rinkas cerita setelah beliau wafat tidak ada satupun yang dapat mewarisi perjuangannya, akhirnya vakum sampai bertahun tahun. Akhirnya sekitar 150 M arah timur laut dari masjid sekarang ada seorang prajurit Demak yang tidak begitu alim agamanya, babat daerah tersebut dan bersanak keluarga turun temurun sampai sekarang.

Pesan kyai Hamim Ponorogo;

Kalau desa Sering Kec. Sumber, Rembang, ingin istiqomah dan barokah kehidupannya seringlah berziarah ke makam Waliyulloh tersebut. Jadi kata “ SERING” digunakan nama desa disini, Insya Alloh agar warganya sering berziarah kemakam Sayyid Asyrofi RA dan kedua santrinya.

Menurut legenda atau cerita turun-temurun madegnya desa SERING malamnya berdirinya masjid Demak dan siangnya desa sering, Insya Alloh ada benarnya. Karena yang babat adalah seorang muslim, masih prajurit Demak.

Maka ketika KH. Nur Hamim ‘Adlan  Ponorogo datang didesa Sering pertama kali sekitar pukul 11 Malam dihadang seorang pendekar, itulah prajurit Demak Bintoro.

Menurut isyaroh KH. Nur Hamim ‘Adlan, Pengasuh Ponpes Nahrul ‘Ulum Purbosuman Ponorogo Jawa Timur , Insya Alloh beliau Sayyid  Asyrofi RA meninggal

Hari        : Jum’ah  Tanggal :29 Rojab 783 H / 1362 M

Asal        : Hadlromaut –Yaman.

Pesan  Kyai Hamim Ponorogo :

  1. Tiap malam Jum’at Kliwon ibadah lapanan bersama
  2. Tiap hari Jum’at kliwon atau tanggal 29 Rojab diadakan haul
  3. Anda percaya saya, kerjakan ! anda tidak percaya tetaplah berziarah kemakam tersebut karena Allah.

Acara Muktamar XI Jamiyyah Ahlith Thariqoh Al-Mutabarah An-Nahdliyyah

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Download Kitab Kuning Versi Software

Kitab Kuning yang selama ini hanya tertulis di kertas, sekarang dapat dinikmati secara digital yang bernama Al Maktabah al-Syamilah. Kitab digital ini memiliki beberapa kelebihan diantaranya mudah dalam pencarian, tidak memerlukan tempat fisik atau perpustakaan untuk menyimpan dan lengkap.

Software kitab ini memerlukan media penyimpanan sebesar 4,2 GB. Pesantren atau siapapun bisa menginstal software ini dan menggunakannya sebagai media dakwah. Software ini bisa didownload atau dipesan dalam bentuk CD. Untuk mendapatkan software ini ada beberapa cara, antara lain :
1. Hubungi pesantren virtual melalui email info@pesantrenvirtual.com
2. Download melalui website al-Misykat : http://www.almeshkat.com/
3. Download melalui website NU Nihon : http://www.nunihon.org/DownloadNU/CDKitab1/
4. Kontak Bagian Distribusi PV, Sdr. M. Anshori HP. 0813 25041842
5.Kontak Rabitatul Maahid NU Jatim, Sdr. Nur Hidayat. PP Salafiyah Syafi’iyah Khoiriyah Hasyim, Seblak Diwek Jombang email: mazhida2000@yahoo.com

Catatan:

Software Maktabah Syamilah bisa didapatkan secara gratis, namun PesantrenVirtual tidak mempunyai dana untuk menggandakan CD/DVD untuk program tersebut, sementara yang berminat banyak sekali. Bagi yang ingin mendapatkan CD/DVD Maktabah Syamila melalui PesantrenVirtual dipersilahkan menanggung biaya penggantian CD/DVD dan biaya pengiriman. Buku petunjuk pengoperasion Maktabah Syamila berbahasaIndonesiajuga termasuk dalam dvd/vcd tersebut.

Info selengkapnya untuk petunjuk instalasi dan lain-lain dapat dilihat di: http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1153&Itemid=39 [madinululum.wordpress.com]

Semoga Bermanfaat

Sepintas Manakib 2 Sayid di Rembang Jawa tengah

A. MUQODIMAH
اَلْحَمْدُ ِللهِ وَالشُّكْرُ ِللهِ عَلَى نِعَمِ اللهِ لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَ بِاللهِ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ وَّلَهُ
Dikota Rembang – Jawa Tengah pada Jalan Pantura disitu ada Pelabuhan kecil yang diberi nama Pantai Kartini dan saat ini dijadikan Tempat Wisata.
Dari Pantai Kartini keselatan ada sebuah jalan yang namanya Jalan Kartini dan disana ada Setasiun Kereta Api lama (bekas) yang sekarang di pakai Terminal Angkota dan didekatnya ada perempatan kalau kita berjalan kebarat ada jalan yang bernama Jalan Sawahan-Desa Sawahan. Jalan inilah dihuni Makam Auliya’ Dzurriyah Rosululloh SAW tepatnya bersebrangan jalan arah utara Kediaman Keluarga Almarhum KH. Masmu’ Zuhdi lengkap dengan Pesantrennya. Dan kalau kita berjalan lagi kebarat akan kita jumpai Jalan A. Yani dibelakang Balai Desa Sawahan ternyata ada makam bernasab Abu Bakar Sidiq Shohabat Nabi SAW. Dan kedua Makam Waliyulloh ini sejak zaman dahulu disebut orang Makam Sayid artinya Makam Keluarga / turun Nabi Muhammad SAW.
Banyak ihtiyar dan daya upaya dari Keluarga KH. Masmu’ Zuhdi bahkan sampai dari nenek moyang beliau ternyata belumlah memuaskan tentang manakib (ceritera auliya’) dari kedua makam tersebut.
Pada pukul 15.00 Hari Sabtu Pahing, 15 Mei 2004/ 25 Robiul Awal 1425 ketika saya dirumah keluarga Bapak Lurah Tireman Rembang Gus Ahmad Muzakki bin KH. Masmu’ Zuhdi menjumpai saya disamping Silaturrahmi hajat khususnya agar sudi membantu mengungkap tabir kedua Makam Sayid tersebut. Dengan perasaan sangat berat saya KH. Nur Hamim ‘Adlan untuk menyanggupi dan hanya kepada Alloh SWT lah dzat yang lebih waspada dan Maha Pengasih-Penyayang.
Segala kekhilafan dan kecerobohan saya mohon maaf pada semua fihak khususnya yang bersangkutan.
Ponorogo, 19 Mei 2004 M
29 Robiul Awal 1425 H
Read the full post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: